Jumat, 18 Desember 2015

PEMANFAATAN KEINDAHAN ALAM DALAM ISLAM



                          PEMANFAATAN KEINDAHAN ALAM DALAM ISLAM


Keindahan memiliki ragam arti seperti layak, baik, indah, bagus. Adapun secara teknis keindahan bermakna sebuah hal yang fenomenal atau sebuah tirai yang tembus pandang dan transparan yang memancarkan kesempurnaan. Secara keseluruhan, keindahan memiliki empat macam:1. Keindahan yang dapat di indra, 2. Keindahan yang tidak dapat di indra, 3. Keindahan bersifat rasional, 4. Keindahan mutlak Allah Swt.
Menurut pandangan al-Quran, keindahan manusia yang juga termasuk dalam fenomena-fenomena keindahan adalah bersifat tabiat, maknawi, akhlak, dan moralnya.
Begitu juga sebagian dari rukun-rukun keindahan dalam pandangan al-Quran memiliki persyaratan berikut: memiliki tujuan, kesesuaian dan keseimbangan, Pengaturan yang tertib dan indah, keragaman dan pertentangan, beraneka ragam indahnya warna-warna, penghiasan, pembagusan, perindahan dari segala macam cacat.
Pandangan keindahan dan estetika dalam al-Quran, dengan mencermati prinsip-prinsip ontologis dan epistemologis yang ada,  sangat berbeda dengan prinsip-prinsip estetika dalam pemikiran barat.
Al-Quran merupakan suatu kitab petunjuk bagi manusia yang diturunkan Allah Swt melalui perantara rasulnya, sebagai penerang hakikat alam semesta. Berkenaan dengan ini Allah Swt berfirman, “Dan kami telah menurunkan al-Quran kepada kamu sebagai penjelas segala sesuatu.”[1] Sesuai asas pemahaman ayat ini terdapat banyak bentuk prinsipil yang disebutkan dalam al-Quran dan memiliki sisi pengoreksian atas pandangan kemanusiaan. Salah satu pemahaman-pemahaman dalam al-Quran, kita menjumpai banyak ayat-ayat yang membantu kita dalam memahami keindahan. Hal yang sudah sangat jelas sekali untuk menyingkap pandangan yang dalam,  pertama-tama yang kita lakukan, harus menentukan definisi dan batasan-batasannya terlebih dahulu, setelah itu dengan menggunakan informasi-informasi serta prinsip-prinsipnya, kita memperdalam makna dari ayat-ayat dan aplikasi-aplikasinya, sehingga kita bisa mengambil esensi pemahaman dan pengetahuan keindahan (estetika) itu sendiri.
Indah memiliki arti yang bermacam seperti layak, baik, indah, dan bagus, keindahan itu sendiri adalah sebuah keadaan indah yang di antaranya adalah: adanya keteraturan dan keselarasan bersamaan dengan keagungan dan kebersihan pada sesuatu. Di samping itu, akal, imaginasi dan kecenderungan tinggi manusia menyuarakan kepada kebaikan serta memberinya kesenangan dan kenikmatan.[2]
Secara teknis definisi tentang keindahan juga beragam sesuai dengan definisi keindahan tadi yaitu sebuah keselarasan dan keharmonisan yang membentuk kenikmatan sebuah karakter tertentu dalam diri kita, sehingga tahu apa itu ‘indah’ dalam benak kita.[3]
Allamah Muhammad Taqi Ja’fari Ra menyebutkan poin ini secara akurat akibat bahwa pengaruh keindahan penciptaan, esensinya, indra pencarian keindahan yang terpendam dalam diri manusia sehingga ia dapat meraih ketenangan dan kepuasan serta meraup kesempurnaan. Beliau mendefinisikan keindahan seperti ini, ”Sesuatu yang fenomenal atau sebuah tirai yang transparan yang memancarkan kesempurnaan”. Untuk itu, keindahan adalah untuk menghilangkan rasa dahaga jiwa manusia sehingga dengannya ia memperoleh kesempurnaan.[4]
Keindahan memiliki ragam jenis yang berbeda, setiap dari jenis terbagi menjadi beberapa macam yang layak menjadi pondasi esensi pengetahuan dan epistemologinya.
Namun, secara umum bisa dikategorikan kepada empat kategori asas:
  1. Keindahan yang dapat terindra seperti bunga-bunga dan pepohonan;
  2. Keindahan yang tidak dapat terindra seperti keindahan kebebasan dan keindahan ilmu;
  3. Keindahan rasional yang berharga seperti hikmah, keadilan dan yang sejenisnya;
  4. Keindahan dan kesempurnaan mutlak yang tidak sirna dan tidak akan sirna.[5]

Al-Quran dalam ayatnya yang penuh cahaya menyebutkan pula keindahan serta menyeru manusia untuk berfikir dan merenunginya. Untuk itu, al-Quran menganjurkan manusia untuk mencari apa itu keindahan; dalam hal ini baik keindahan indrawi maupun keindahan maknawi, material dan spiritual.
Kita dapat menarik kesimpulan atas penjelasan di atas bahwa al-Quran tidak hanya melihatnya sesuatu yang majasi akan tetapi sebaliknya memproleh keindahan adalah kebutuhan ruhani manusia dan hal yang dicari dan dicintai oleh seluruh manusia.[6]
Allah Swt berfirman, ”Dan Dia-lah, Allah, yang menundukkan lautan (untukmu) agar darinya kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) dan mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai.”[7] Ayat al-Quran dengan keindahan bahasanya yang tak ada tandingannya menunjukan tanda-tanda keagungannya dalam mengenalkan pemahaman keindahan.[8] Untuk itu, al-Quran sendiri adalah puncak keindahan, fenomena keindahan ilmiah serta simbol-simbol keindahan. Kita bisa menemukan contoh yang sangat banyak di dalam ayat-ayat al-Quran serta membuktikannya bahwa Allah Swt adalah sumber  seluruh keindahan dan nikmat nikmat keindahan itu diperagakan dalam peniptaan alam semesta ini.
Dalam ayat al-Quran terminologi dan pemahaman keindahan pun digunakan dalam beberapa bagian, di antaranya:

  1. Jamal (sangat indah), hasan (penyebab kegembiraan, bagus), zinat (sesuatu yang indah ditambahkan kepada sesuatu yang lain agar lebih indah) yang merupakan tiga kata sebagai Wfokus keindahan;
  2. Hilyeh (hiasan), bahjat (keindahan, kegembiraan, kesenangan), zukhruf (dihiasi, didandani, cemerlang), taswil (sesuatu yang jiwa menjadi rindu kepadanya, keindahan yang mana karenanya keburukan tertutupi);
  3. Kelompok kelompok yang terdiri dari wujud tafsiran yang terdapat pada zona keindahan seperti sulaman, busana (untuk dandan);
  4. Kelompok kelompok yang menjadi penjelas sebagian unsur unsur dan tipologi-tipologi keindahan seperti cahaya, warna, harga, nilai.

Fenomena-fenomena Keindahan dalam Pemahaman Al-Quran
Al-Quran dalam tujuan-tujuan sucinya yang agung ingin menunjukan kepada kita sebagian dari keindahan-keindahan alam, aroma keindahan maknawi, dan akhlak serta tirai dari keindahan-keindahan alam akhirat yang akan dijelaskan berlandaskan dibawah ini:
  1. Keindahan manusia: al-Quran telah menjelaskan tahapan-tahapan pertumbuhan manusia dan menegaskan dalam ukuran serta keseimbangannya (dalam penciptaan) Allah Swt berfirman, ”Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”[9] Setelah penciptaan manusia dengan keindahan Allah Swt kepada dirinya (Zat-Nya) berfirman, ”Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[10] Hakikatnya, keselarasan organ tubuh, penempatan dan peletakan dari setiap anggota  tubuh di tempatnya masing-masing adalah sebuah pekerjaan yang sangat teliti. Dan, keindahan penciptaan ini membuat para ilmuwan berdecak kagum sampai saat ini. Keindahan ini tidak hanya dari sisi lahiriah manusia saja, akan tetapi  dimensi ruhani dan batin manusia juga perlu diperhatikan. Di sini manusia haru mampu mengarahkannya kepada tingkatan kesempurnaan dan kebahagiaan yang menjulang.
  2. Keindahan alam: setiap manusia dengan segala kecenderungannya setiap zaman hidup berdampingan dengan alam,dari keindahan dan ketakjuban alam selalu mendatangkan rasa heran dan takjub serta selalu mendapatkan kegembiraan dan kesegaran. Pemandangan gunung-gunung yang menjulang tinggi, sungai-sungai yang mengalir, terbit dan terbenamnya matahari, kilatan petir dan yang lainnya, yang setiap dari mereka bagian dari keindahan keindahan yang menakjubkan, di atas semua keindahan ini, al-Quran menggambarkannya dalam dimensi alam yang tak bernyawa, dan masih banyak jendela pengetahuan keindahan yang lainnya. Ayat-ayat yang berhubungan dengan alam dinamakan dalam al-Quran dengan ayat tabiat dan para ahli tafsir telah menyebutkan lebih dari 750 ayat yang dari setiap ayat bisa kita bagi kebeberapa pembagian yang bermacam-macam mencangkup deskripsi keindahan langit dan yang lain lainnya dari fenomena alam. Di sini kita akan menyinggung beberapa ayat sebagai berikut:
  1. “Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?”[11]
  2. “Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.”[12]
  3. “Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang.”[13]
  4. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang di langit dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya).”[14] Serta contoh seperti ayat ayat ini dalam al-Quran  dapat kita lihat pada surah-surah berikut: (Qs. Al-Dhuha [93]:1);(Qs. Al-Mudattsir [74]: 34); (Qs. Al-Kahfi [18]: 86); (Qs. Al-Hajj [22]: 5); (Qs. Qaf [50]: 7-11).

Keindahan Spiritual dan Moral
Terdapat perbedaan antara prinsip keindahan (estetika) dalam pandangan islam dan sekelompok dari para penulis barat. Makna keindahan dalam Islam tidak hanya mencakup keindahan alam atau hal-hal yang bisa di indra akan tetapi lebih dari itu memasukan keindahan maknawi dan akhlak juga dalam kategori keindahan. (Yang tidak bisa terindra) Al-Quran berfirman, ”Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.”[15] Kesabaran dan pemberian maaf salah satu dari perbuatan yang sedemikian rupa indah dijelaskan dalam al-Quran, ”Sabarlah dengan seindah indahnya sabar.”[16] Pemberi maaf adalah keindahan juga, ”Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik (dan janganlah kamu cerca mereka karena kebodohan mereka).”[17] Perceraian juga merupakan salah satu bentuk keindahan, ”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu sebuah hadiah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (indah).”[18] Terdapat beberapa ayat terkait dalam masalah ini disebutkan dalam al-Quran salah satunya adalah surat al-Ahzab (33): 49.

Asas-asas Keindahan dalam Al-Quran
Kita mampu mendapatkan sebanyak banyaknya dalam al-Quran sebab-sebab keindahan yang mana terhitung salah satu dari karakteristik penciptaan Ilahi dalam aturan alam semesta di antaranya:
  1. Memiliki tujuan: Salah satu asas pemahaman keindahan dalam al-Quran, penekanan dalam tujuan; karena merupakan asas dari panggilan al-Quran yaitu hidayah (petunjuk) serta terpanggilnya objek kepada berita berita Ilahi dan maknawi. Kita tidak bisa mendefinisikan keindahan dan tujuan hanya dalam batasan batasan materi dan hanya karya seni. Sebagai contoh, kisah kisah dalam al-Quran adalah salah satu dari keindahan yang terkandung dalam ceritanya. Kandungan kisah ini terangkum agung dalam untaian untaian indah, maksud dari kisah ini bukanlah dari sisi tutur bahasa dan seninya atau karena judulnya indah dan menarik akan tetapi, maksud dan tujuan asli dari kisah ini adalah pemberian petunjuk untuk umat manusia dan penekanan terhadap kekuatan dan kuasa Allah yang tidak terbatas.[19]
  2. Keselarasan dan keseimbangan: Aturan penciptaan berasaskan rekonstruksi yang teliti dan teratur, kita dapat merrangkum  poin ini dalam ayat-ayat berikut, ”Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”[20] ”Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah menciptakan ketentuan bagi segala sesuatu.”[21]Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.”[22]Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, serta Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”[23] “Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran.”[24] Dan, ”Mereka  bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.”[25]
  3. Pengaturan yang tertib dan indah: Salah satu tanda-tanda yang penting adalah teratur tertib, dan tertata yang sedemikian rupa disebutkan dalam al-Quran pada ayat-ayat yang berbeda-beda, ”Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, serta Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.[26]Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun.[27] Dan “Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.[28]
  4. Keragaman dan pertentangan: Dalam esensi keesaan hanya satu Hakim (Pengatur Yang Bijaksana) yang mengatur hamparan luas alam ini. Begitu juga keragaman aneka jenis yang menakjubkan adalah Sang Bijak yang terdapat dalam beberapa jenis seperti, benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, hewan da manusia serta terdapat pada: “Di atas bumi kita berpijak benda benda berdampingan satu sama lain, namun satu sama lain beda jenis misal dalam sebuah perkebunan terdapat: anggur, pertanian dan kurma (terdapat pohon-pohon buah yang beraneka ragam) yang mana terkadang tumbuh dalam satu batang terkadang pula tumbuh dalam dua batang (lebih mengherankan) dan mereka semua mengkomsumsi dari satu air. Walhasil, sebagian dari mereka dari sisi berbuah dari lainnya memberikan buah yang bagus dan ini semua (kejadian alam) untuk sekelompok orang yang berakal yang menggunakan akalnya.”[29]
  5. Beraneka ragamnya keindahan warna-warna: beberapa dari ayat-ayat al-Quran telah mengisyaratkan kepada aneka ragamnya warna-warna. Al-Quran mengingatkan kita bahwa warna hijau adalah warna surga yang melambangkan kenikmatan dan kesenangan. Allah Swt berfirman, ”Mereka memakai pakaian sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.”[30] Dan dari warna kuning melambangkan kegembiraan Allah berfirman, ”Dan sapi kuning yang mana (bulunya kuning keemasaan ) mendatangkan kegembiraan bagi pemiliknya.” Dan contoh dari warna-warna dan ragamnya mereka bisa ditemukan dalam surat Nahl (16):13, Fathir  (35):27 & 28, Al-Zumar (39): 21.
  6. Penghiasan, pembagusan, pengindahan dari segala macam cacat: penghiasan dari cacat adalah salah satu ayat ayat penciptaan Ilahi. Poin yang mana dalam al-Quran surat al-Mulk disebutkan ketika memperhatikan keindahan langit, ”Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Lihatlah sekali lagi, apakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?[31] Penghiasan dan pengindahan dari cacat telah ditekankan pada  ayat ayat lain dalam al-Quran.[32] [iQuest]


[1]. (Qs. Al-Nahl [16]: 89)
[2]. Muin,Muhammad,,Qâmus Persia, Teheran, institusi penerbitan Amir Kabir,1306 syamsi.
[3]. Hasan Harqani, Mafâhim Zibâi Syinâkhti dar Qurân, Majalah Muthala’ât Islâmi, hal.11, tahun 1387,no.80.
[4]. Ja’fari, Muhammad Taqi, Zibâi wa Hunar az Didgâh-e Islâm, hal.174, Muassasah Tadwin Atsar Allamah Ja’fari, Teheran,1385 S.
[5]. Ibid, hal.162,163.
[6]. Ibid. hal.133-136.
[7]. (Qs. Al-Nahl (16):14)
[8]. Mahbub Fadhilat,, Zibâ Syinâsi dar Qurân, hal.22, Cetakan Kedua, Samt, 1387 S.
[9]. (Qs. Al-Tin [95]: 14)
[10]. (Qs. Al-Mu’minun [23]: 14).
[11]. (Qs. Qaf [50]: 6).
[12]. (Qs. Al-Shaffat [37]: 6).
[13]. (Qs. Fushilat [41]:12).
[14]. (Qs. Al-Hijr [15]:16)
[15]. (Qs. Al-Hujurat [49]:7).
[16]. (Qs. Al-Ma’arij [70]:5)
[17]. (Qs. Al-Hijr [15]:85).
[18]. (Qs. Al-Ahzab [33]: 28).
[19]. Sayid Muhamad Ali Iyazi, Ushûl wa Mabâni Zibâ Syinâsi Qur’ân Karim,  Paigah Itthila’ Rasani Tebyan.
[20]. (Qs. Qamar [54]: 49).
[21]. (Qs. Al-Ra’d [13]: 8).
[22]. (Qs. Al-Furqan [25]: 2).
[23]. (Qs. Thalaq [65]: 2).
[24]. (Qs. Al-A’la [87]: 2-3).
[25]. (Qs. Al-Thur [52]: 20).
[26].  (Qs. Al-Hijr [15]: 19).
[27]. (Qs.Al-Ghasiyah [88]: 15).
[28].  (Qs. Al-Zumar [39]: 20).
[29]. (Qs. Al-Ra’d [13]:4).
[30]. (Qs.Al-Insan [76]:21).
[31]. (Qs. Al-Mulk [67]: 3).
[32]. Untuk mempelajari lebih lanjut: Hasan Harqani, Mafâhim Zibâi Syinâkhti dar Qurân, Majalah Muthala’ât Islâmi, Majalah Muthala’ât Islâmi, 1387 S, No.80; Mahdi Muti’, Mabâni Zibâsyinâkhti dar Qur’ân, Qur’ân be Matsâbeh Nazhariyah Pardâzi Zibâsyinâsi, Fashlname Hunar, 1385, No. 70, hal. 210; Hasan Balkhari, Bunyân-hâ-ye Nazhari Zibâsyinâsi Islâm dar Qur’ân Karim, Fashlnâme Hunar,  1385 S, No. 70, hal.164-171.


Pengampu : Drs. H. SOKHIBI, M.Pd.I (FIQIH REKREASI)

NYANYIAN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM



                Nyanyian  Dalam Islam

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt kepada seluruh manusia tanpa mengenal bangsa yang bersumberkan al-Quran, Sunnah dan Ijma' Ulama. Islam adalah agama yang nyata (waqi'e) dan sesuai dengan fitrah manusia, pada semua tempat, zaman dan situasi menepati citarasa, kehendak, sifat, keinginan, nafsu, perasaan dan akal fikiran manusia. Dalam jiwa, perasaan, nurani dan keinginan manusia terbenamnya rasa sukakan keindahan dan keindahan itu adalah seni. Seni adalah sesuatu yang bersifat abstrak, dapat dipandang, didengar dan disentuh oleh jiwa tetapi tidak dapat dinyatakan melalui kata-kata dan bahasa. Sukar untuk mentakrifkan seni secara tepat sesukar untuk menerangkan konsep keindahan dan kesenangan itu sendiri. Al-Farabi menjelaskan seni sebagai ciptaan yang berbentuk keindahan, Al-Ghazali pula menjelaskan seni dengan maksud kerja yang berkaitan dengan rasa jiwa manusia yang sesuai dengan fitrahnya.
Mengikut kebudayaan Barat, seni sebenarnya tiada hubungan dengan agama. Ini adalah disebabkan oleh dasar sekularisme yang mengasingkan hal keduniaan dengan agama. Walau bagaimanapun seni masih dianggap sebagai sesuatu yang ideal dan berkaitan dengan moral. Seni juga boleh dibahagi dengan dua tujuan iaitu seni untuk seni dan seni untuk masyarakat, di mana seni untuk seni adalah bertujuan untuk seni sahaja dan orang mencipta seni ini dibebaskan untuk apa-apa tujuan sama ada mengandungi unsur baik atau jahat. Manakala seni untuk masyarakat pula  menyatakan bahawa seni dicipta untuk sesuatu tujuan maka ianya mestilah difahami oleh masyarakat yang digunakan untuk kemasyarakatan, politik dan akhlak.
Eugene Johnson dalam 'The Encyclopedia Americana' menjelaskan seni (art) sebagai kemahiran, misalnya seni pertukangan yang membawa erti kemahiran pertukangan. Dari segi istilah ilmu berkebudayaan, ia membawa erti sebagai segala sesuatu yang indah. Keindahan yang dapat menggerakkan jiwa, kemesraan, menimbulkan keharuan, ketakjuban, kesenangan atau sebaliknya iaitu dendam, benci, cemas dan sebagainya. Drs. Sidi Gazalba dalam bukunya 'Pandangan Islam Tentang Kesenian' menjelaskan bahawa kesenian adalah sebahagian daripada kebudayaan yang dicetuskan oleh sesuatu kelompok manusia kerana setiap kelompok masyarakat mempunyai fitrah semulajadi yang cinta kepada seni yang menyenangkan hati melalui pancaindera yang lima. Justeru itu, manusia dikatakan sebagai makhluk seni yang cinta kepada sesuatu yang selamat, memuaskan dan memberi kepuasan melalui pancaindera. Seni secara ringkasnya dapat dibahagikan kepada empat bahagian utama :
  • Seni melaui pendengaran seperti muzik, deklamasi puisi, prosa, senia suara dan sebagainya.
  • Seni yang diperolehi melalui penglihatan mata seperti seni lukis, seni hias, seni bina, seni pakaian dan sebagainya.
  • Seni yang dapat diperolehi melalui pendengaran dan penglihatan seperti drama, tablo, teater, filem dan sebagainya.
  • Seni yang dinikmati melalui pembacaan seperti hasil karya sastera yang berbentuk puisi dan prosa.


Konsep Seni Menurut Perspektif Islam 
Seni Islam merupakan sebahagian daripada kebudayaan Islam dan perbezaan antara seni Islam dengan bukan Islam ialah dari segi niat atau tujuan dan nilai akhlak yang terkandung dalam hasil seni Islam. Pencapaian yang dibuat oleh seni Islam itu juga merupakan sumbangan daripada tamadun Islam di mana tujuan seni Islam ini adalah kerana Allah swt. Walaupun seni merupakan salah satu unsur yang disumbangkan tetapi Allah melarang penciptaan seni yang melampaui batas. Firman Allah swt yang bermaksud : "Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas."
Keindahan merupakan salah satu ciri keesaan, kebesaran dan kesempurnaan Allah swt lantas segala yang diciptakanNya juga merupakan pancaran keindahanNya. Manusia dijadikan sebagai makhluk yang paling indah dan paling sempurna. Bumi yang merupakan tempat manusia itu ditempatkan juga dihiasi dengan segala keindahan. Allah swt bukan sekadar menjadikan manusia sebagai makhluk yang terindah tetapi juga mempunyai naluri yang cintakan keindahan. Di sinilah letaknya keistimewaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain sama ada malaikat, jin dan haiwan. Konsep kesenian dan kebudayaan dalam Islam berbeza dengan peradaban Islam yang lain.
Dalam pembangunan seni, kerangka dasarnya mestilah menyeluruh dan meliputi aspek-aspek akhlak, iman, matlamat keagamaan dan falsafah kehidupan manusia. Seni mestilah merupakan satu proses pendidikan yang bersifat positif mengikut kaca mata Islam, menggerakkan semangat, memimpin batin dan membangunkan akhlak. Ertinya seni mestilah bersifat "Al-Amar bil Ma'ruf dan An-Nahy 'an Munkar" (menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran) serta membangunkan akhlak masyarakat, bukan membawa kemungkaran dan juga bukan sebagai perosak akhlak ummah. Semua aktiviti kesenian manusia mesti ditundukkan kepada tujuan terakhir (keredhaan Allah dan ketaqwaan). Semua nilai mestilah ditundukkan dalam hubunganNya serta kesanggupan berserah diri. Seni juga seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan ketaqwaan.

Prinsip-prinsip (ciri-ciri) Kesenian Islam
1. Mengangkat martabat insan dengan tidak meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai persekitaran dan sejagat. Alam sekitar galerinya, manakala manusia menjadi seniman yang menggarap segala unsur kesenian untuk tunduk serta patuh kepada keredhaan Allah swt.
2. Mementingkan persoalan akhlak dan kebenaran yang menyentuh aspek-aspek estetika, kemanusiaan, moral dan lain-lain lagi.
3. Kesenian Islam menghubungkan keindahan sebagai nilai yang tergantung kepada keseluruhan kesahihan Islam itu sendiri. Menurut Islam, kesenian yang mempunyai nilai tertinggi ialah yang mendorong ke arah ketaqwaan, kema'rufan, kesahihan dan budi yang mantap.
4. Kesenian Islam terpancar daripada wahyu Allah, sama seperti undang-undang Allah dan SyariatNya. Maknanya ia harus berada di bawah lingkungan dan peraturan wahyu. Ini yang membezakan kesenian Islam dengan kesenian bukan Islam. 
5. Kesenian Islam menghubungkan manusia dengan tuhan, alam sekitar dan sesama manusia dan juga makhluk.
Islam tidak pernah menolak kesenian selagi dan selama mana kesenian itu bersifat seni untuk masyarakat dan bukannya seni untuk seni. Terdapat lima hukum dalam seni jika diperincikan. Antaranya:
(a) Wajib : Jika kesenian itu amat diperlukan oleh muslim yang mana tanpanya individu tersebut boleh jatuh mudarat seperti keperluan manusia untuk membina dan mencantikkan reka bentuk binaan masjid serta seni taman (landskap) bagi maksud menarik orang ramai untuk mengunjungi rumah Allah swt tersebut.
(b) Sunat : Jika kesenian itu diperlukan untuk membantu atau menaikkan semangat penyatuan umat Islam seperti dalam nasyid, qasidah dan selawat kepada Rasulullah saw yang diucapkan beramai-ramai dalam sambutan Maulidur Rasul atau seni lagu (tarannum) al-Quran.
(c) Makruh : Jika kesenian itu membawa unsur yang sia-sia (lagha) seperti karya seni yang tidak diperlukan oleh manusia.
(d) Haram : Jika kesenian itu berbentuk hiburan yang :
  • Melekakan manusia sehingga mengabaikan kewajipan-kewajipan yang berupa tanggungjawab asas terhadap Allah swt khasnya seperti ibadah dalam fardhu ain dan kifayah.
  • Memberi khayalan kepada manusia sehingga tidak dapat membezakan antara yang hak (betul) dan yang batil (salah).
  • Dicampuri dengan benda-benda haram seperti arak, judi, dadah dan pelbagai kemaksiatan yang lain.
  • Ada percampuran antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram seperti pergaulan bebas tanpa batas dalam bentuk bersuka-suka yang melampau. 
  • Objek atau arca dalam bentuk ukiran yang menyerupai patung sama ada dibuat daripada kayu, batu dan lain-lain.
  • Disertai dengan peralatan muzik yang diharamkan oleh Islam seperti alat-alat tiupan, bertali, tabuhan yang bertutup di bahagian atas dan bawah serta alat-alat muzik dari tekanan jari. Sesetengah  ulama mengatakan harus hukumnya jika digunakan untuk pendidikan dan tidak menarik kepada konsep al-Malahi (hiburan yang keterlaluan) juga alat-alat muzik di atas boleh digunakan untuk tujuan dakwah Islamiyyah, seperti yang pernah dibuat oleh Rabiatul Adawiyyah.
  • Seni yang merosakkan akhlak dan memudaratkan individu atau yang berbentuk tidak bermoral seperti tarian terkini (kontemporari).
  • Jenis-jenis seni yang dipertontonkan bagi maksud atau niat yang menunjuk-nunjuk dan kesombongan.
(e) Harus : Apa saja bentuk seni yang tidak ada nas yang mengharamkannya. 



Matlamat Kesenian 
 Alangkah ruginya manusia Muslim yang tidak tahu bagaimama untuk membawa kecenderungan makhluk sejenisnya ke arah ketaqwaan kepada Allah swt. Seni Islam dibentuk untuk melahirkan seseorang yang benar-benar baik dan beradab.
Konsep seni Islam dan pembawaannya haruslah menjurus ke arah konsep tauhid dan pengabdian kepada Allah swt. Motif  seni harus berorentasi pada perkara-perkara ma'ruf (kebaikan), halal dan berakhlak. Jiwa seni harus sesuai  kepada fitrah asal kejadian manusia kerana kebebasan jiwa dalam membentuk seni adalah menurut kesucian fitrahnya yang dikurniakan Allah swt. Fungsi seni tidak kurang sama dengan akal supaya manusia menyedari perkaitan antara alam, ketuhanan dan rohani l. Lantas ia menyedari keagungan Tuhan dan keunikan penciptaanNya.
Seni dalam Islam menanam rasa khusyu' ke pada Allah di samping memberi ketenangan di jiwa manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan dengan fitrah yang gemar kepada kesenian dan keindahan. Oleh sebab itu seni dalam Islam tidak berslogan 'seni untuk seni' tetapi 'seni kerana Allah untuk manusia, makhluk dan alam sekitar'. Kesenian Islam terpancar daripada tauhid yang merupakan satu penerimaan dan penyaksian terhadap keesaan Allah swt maka seni yang berpaksikan tauhid dapat menanamkan sifat bertaqwa dan beriman. Seni juga dapat meningkatkan daya intelek dan bukan sahaja emosi.

1.Nyanyian dan Muzik tanpa atau dengan alat muzik adalah harus berpandukan kepada dalil-dalil berikut:
Dalil dari al-Quran
a) Firman Allah di dalam Surah al-Jumaah ayat 11:
Maksudnya: Dan apabila mereka mengetahui kedatangan barang-barang dagangan ( yang baru tiba) atau (mendengar) sesuatu hiburan, mereka bersurai (lalu pergi) kepadanya dengan meninggalkan engkau berdiri ( diatas mimbar- berkhutbah). Katakanlah (Wahai Muhammad:Pahala-balasan) yang ada disisi Allah, lebih baik dari hiburan dan barang-barang dagangan itu, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki
Istinbat dari ayat di atas:
Sahabat-sahabat sedang mendengar khutbah Jumaat, meninggalkan Rasulullah saw dan pergi kepada perniagaan disamping mendengar nyaniyian yang menggembirakan (al-lahwu), namun demikian al-Quran tidak mengharamkan al-lahwu itu. Rasulullah saw juga tidak menempelak perbuatan itu. Ertinya: Nyanyian yang menggembirakan seperti itu adalah harus
b) Firman Allah di dalam Surah al-Anaam ayat 32
Maksudnya: Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan mainan( yang sia-sia) dan hiburan yang melalaikan.
Istinbat dari ayat di atas:
Allah SWT menggambarkan penghidupan dunia ini seluruhnya ibarat permainan dan sukaria (al-laywu) kedua-duanya harus.
c) Firman Allah di dalam Surah al-Anbia" ayat 16-17
Maksudnya: Dan (ingatlah) kami menjadikan langit dan bumi serta segala yang ada diantaranya, secara main-main (16) Sekiranya kami hendak mengambil sesuatu ntuk hiburan, tentulah kami akan mengambilnya dari sisi kami, kami tidak melakukannya (17)
Istinbat dari ayat di atas:
Kedua-dua ayat di atas menyentuh dua perkara: i-mainan dan ii- kegembiraan (lahwu). Kefua-dua perkara tersebut tidak diharamkan. Ianya diharuskan( difahami dari gaya ayat).
Dalil dari as-Sunnah
a) Daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah saw telah masuk (menemui saya), ketika itu dua orang jariah (budak perempuan) sedang menyanyi- nyanyi (memperingati perang) Baath. Baginda (mendengar nyanyian) sambil berbaring ditempat baringku dan dipalingkan mukanya. (Tiba-tiba) masuk Abu Bakar r.a serta mengherdik saya dengan katanya serunai (mizmar) syaitan disisi nabi saw. Rasulullah saw mengadap Abu Bakar seraya berkata: Biarkan mereka menyanyi (tidak mengapa). Apabila keadaan Rasulullah saw agak selesa dan leka, aku mengisyaratkan dengan mataku kepada dua penyanyi tadi maka mereka pun berbenti menyanyi dan keluar (meninggalkan kami).(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Istinbat dari hadis:
Hadis soheh ini jelas menunjukkan nyanyian adalah diharuskan. Kalau tidak harus masakan Rasulullah saw mendengar nyanyian bersama Aisyah. Abu Bakar yang berkecendurangan melarang dan cuba menegur putrinya Aisyah, telah ditegur oleh Rasulullah kepanya, tidak mengapa. Nyanyian adalah harus.
b) Daripada Khalid bin Zakwan katanya: Ar-Rabi" binti Ma"waz berkata: Telah dating mengunjungiku nabi saw bersempenan hari perkahwinanku, baginda mengambil tempat duduk diatas hamparanku dihadapanku, sepertiman kamu berada dihadapnku sekarang. Ketika itu sekumpulan perempuan sedang mengadakan persembahan nyanyian dengan iringan duff (sejenis alat muzik). Menggunakan senikata memuji pejuang-pejuang yang terqurban dikalangan bapa-bapa kami diperistiwa perang Badar. Salah seorang penyanyi tersebut meneruskan nyanyian dengan menggunakan lirik: bersama kami nabi Allah yang mengetahui apa yang alan berlaku esok hari. Mendengar lirik terakhir itu Rasulullah saw menyapa: tinggalkan lirik itu dan teruskan nyanyian dengan lirik yang telah kamu nyanyikan sebelumnya. ( Hadis riwayat al-Bukhari dan A
Istinbat dari hadis:
Rasulullah saw menghadiri majlis perkahwinan yang serikan dengan nyanyian wanita-wanita muda menggunakan alat muzik. Rasulullah saw tidak melarang malah turut mendengar nyanyian itu. Rasulullah saw tidak melarang malah turut mendengar nyanyian itu. Yang dilarang adalah lirik lagu yang jelas bertentangan dengan hokum syarak. Tidak ada insan( (walaupun ia Rasulullah) yang mengetahui apa yang akan berlaku besok. Nabi melarang lirik dan tidak melarang nyanyian.
Dari keterangan al-Quran dan as-Sunnah di atas menunjukkan bahawa nyanyian atau kegembiraan adalah harus. Namun demikian rasulullah saw menegur lirik yang didengarinya dan melarang penyanyi menggunakannya.
2. Di zaman ini nyanyian dan hiburan, ada yang telah bercampur baur dengan perkara-perkara yang bertentangan syarak , untuk iu yang perlu diperhatiakan dalam nyanyian adalah
i. Tujuan bernyanyi  untuk kebaikan
ii. Berpakaian sopan serta menutup aurat
iii. Tidak bercampur aduk lelaki perempuan sehingga menimbulkan fitnah dan merangsang kemaksiatan
iv. Nyanyian bermanfaat  dan tidak bertentangan  dengan hukum syarak
v. Tempat dan gaya persembahan yang tidak mengundang maksiat


Pengampu : Drs. H. SOKHIBI,.M.Pd.I